Konvergensi IFRS Di Indonesia


 Pengertian konvergensi IFRS
Pengertian konvergensi IFRS yang digunakan merupakan awal untuk memahami apakah penyimpangan dari PSAK harus diatur dalam standar akuntansi keuangan. Pendapat yang memahami konvergensi IFRS adalah full adoption menyatakan Indonesia harus mengadopsi penuh seluruh ketentuan dalam IFRS, termasuk penyimpangan dari IFRSs sebagaimana yang diatur dalam IAS 1 (2009): Presentation of Financial Statements paragraf 19-24. Pengertian konvergensi IFRS sebagai adopsi penuh sejalan dengan pengertian yang diinginkan oleh IASB. Tujuan akhir dari konvergensi IFRS adalah PSAK sama dengan IFRS tanpa adanya modifikasi sedikitpun.
Berdasarkan pengalaman konvergensi beberapa IFRS yang sudah dilakukan di Indonesia tidak dilakukan secara full adoption. Misalnya, ketika IAS 17 diadopsi menjadi PSAK 30 (Revisi 2007): Sewa mengatur leasing tanah berbeda dengan IAS 17. Sistem kepengurusan perusahaan di Indonesia yang memiliki dewan direksi dan dewan komisaris (dual board system) berpengaruh terhadap penentuan kapan peristiwa setelah tanggal neraca, sebagai contoh lain dari perbedaan antara PSAK dengan IFRS.

     Konvergensi ke IFRS di Indonesia
Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.
Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas dari perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB.
Untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi yang dapat dijadikan landasan konseptual.
Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Membahas tentang IAS saat ini lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International Accounting Standard Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of Securities Commissions)
Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Suatu perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional adalah pada saat mendapatkan kesempatan melakukan transaksi ekspor atau impor. Standard akuntansi internasional (IAS) adalah standard yang dapat digunakan perusahaan multinasional yang dapat menjembatani perbedaan-perbedaan antar Negara, dalam perdagangan multinasional.

IASC didirikan pada tahun 1973 dan beranggotakan anggota organisasi profesi akuntan dari sepuluh negara. Di tahun 1999, keanggotaan IASC terdiri dari 134 organisasi profesi akuntan dari 104 negara, termasuk Indonesia.
Tujuan IASC adalah :
1.         merumuskan dan menerbitkan standar akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan dan mempromosikannya untuk bisa diterima secara luas di seluruh dunia, serta
2.         bekerja untuk pengembangan dan harmonisasi standar dan prosedur akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan.
IASC memiliki kelompok konsultatif yang disebut IASC Consultative Group yang terdiri dari pihak-pihak yang mewakili para pengguna laporan keuangan, pembuat laporan keuangan, lembaga-lembaga pembuat standar, dan pengamat dari organisasi antar-pemerintah. Kelompok ini bertemu secara teratur untuk membicarakan kebijakan, prinsip dan hal-hal yang berkaitan dengan peranan IASC.

Pada dasarnya, tujuan didirikannya perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Tujuan selanjutnya adalah memakmurkan nilai pemegang saham.  Salah satu alat yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuannya  adalah laporan keuangan. Semakin relevan dan handal suatu laporan keuangan yang dibuat, maka semakin besar kecenderungan yang sejalan dengan kepercayaan investor untuk tetap menanamkan modalnya di perusahaan. Dengan begitu, profit telah dicapai dan kemakmuran nilai pemegang saham juga telah terpenuhi.
Untuk menghasilkan laporan keuangan yang relevan dan handal, laporan keuangan tersebut harus disusun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku. Standar akuntansi diantaranya berisi tentang aturan-aturan dalam pengakuan, pengukuran, pengungkapan dan penyajian suatu pos dalam laporan keuangan. Standar akuntansi ini juga digunakan agar laporan keuangan antar perusahaan memiliki keseragaman dalam penyajiannya, sehingga memudahkan pengguna untuk memahami informasi yang terkandung dalam laporan keuangan tersebut. Agar tidak menimbulkan ambiguitas dan salah paham terhadap laporan keuangan, standar akuntansi tidak hanya harus dipahami oleh penyusun laporan keuangan dan auditor, tetapi juga harus dipahami oleh pembaca.
Di Indonesia, standar akuntansi yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan yang memiliki akuntabilitas publik signifikan adalah PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan). Standar ini merupakan kumpulan dari berbagai standar Akuntansi di dunia dan telah disesuaikan untuk digunakan di Indonesia. Praktik akuntansi di setiap negara berbeda-beda, ini dikarenakan adanya pengaruh lingkungan, ekonomi, sosial dan politis di masing-masing negara tersebut. Adanya tuntutan globalisasi atau tuntutan untuk menyamakan persepsi akuntansi di setiap negara mengakibatkan munculnya Standar Akuntansi Internasional yang lebih dikenal dengan IFRS (International Financial Reporting Standards). Ini bertujuan untuk memudahkan proses rekonsiliasi bisnis dalam bisnis lintas negara.

Baskerville (2010) dalam Utami, et al. (2012)  mengungkapkan bahwa konvergensi dapat berarti harmonisasi atau standardisasi, namun harmonisasi dalam konteks akuntansi dipandang sebagai suatu proses meningkatkan kesesuaian praktik akuntansi dengan menetapkan batas tingkat keberagaman. Jika dikaitkan dengan IFRS maka konvergensi dapat diartikan sebagai proses menyesuaikan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terhadap IFRS.
Lembaga profesi akuntansi IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) menetapkan bahwa Indonesia melakukan adopsi penuh IFRS pada 1 Januari 2012. Penerapan ini bertujuan agar daya informasi laporan keuangan dapat terus meningkat sehingga laporan keuangan dapat semakin mudah dipahami dan dapat dengan mudah digunakan baik bagi penyusun, auditor, maupun pembaca atau pengguna lain.
Dalam melakukan konvergensi IFRS, terdapat dua macam strategi adopsi, yaitu big bang strategy dan gradual strategyBig bang strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui tahapan-tahapan tertentu. Strategi ini digunakan oleh negara -negara maju. Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh negara – negara berkembang seperti Indonesia.
Terdapat 3 tahapan dalam melakukan konvergensi IFRS di Indonesia, yaitu:
1.    Tahap Adopsi (2008 – 2011), meliputi aktivitas dimana seluruh IFRS diadopsi ke PSAK, persiapan infrastruktur yang diperlukan, dan evaluasi terhadap PSAK yang berlaku.
2.    Tahap Persiapan Akhir (2011), dalam tahap ini dilakukan penyelesaian terhadap persiapan infrastruktur yang diperlukan. Selanjutnya, dilakukan penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS.
3.    Tahap Implementasi (2012), berhubungan dengan aktivitas penerapan PSAK IFRS secara bertahap. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap dampak penerapan PSAK secara komprehensif.

Mengapa IFRS?
Indonesia merupakan bagian dari IFAC (International Federation of Accountant) yang harus tunduk pada SMO (Statement Membership Obligation), salah satunya adalah dengan menggunakan IFRS sebagai accounting standard. Konvergensi IFRS adalah salah satu kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota G20 forum.
Hasil dari pertemuan pemimpin negara G20 forum di Washington DC, 15 November 2008, prinsip-prinsip G20 yang dicanangkan adalah:
1.         Strengthening Transparency and Accountability
2.         Enhancing Sound Regulation
3.         Promoting Integrity in Financial Markets
4.         Reinforcing International Cooperation
5.         Reforming International Financial Institutions
Selanjutnya, pertemuan G20 di London, 2 April 2009 menghasilkan kesepakatan untuk Srengthening Financial Supervision and Regulation:to call on the accounting standard setters to work urgently with supervisors and regulators to improve standards on valuation and provisioning and achieve a single set of high-quality global accounting standards.

B.  Dampak Implementasi IFRS Terhadap Bisnis dan Auditor
Implementasi IFRS dapat memberikan dampak positif dan negatif dalam dunia bisnis dan jasa audit di Indonesia. Berikut ini adalah berbagai dampak dalam penerapan IFRS :
1.    Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global.
2.    Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar.
3.    Kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harga fluktuatif.
4.    Smoothing income menjadi semakin sulit dengan  penggunakan balance sheet approach dan fair value.
5.    Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management).
6.    Penggunaan off balance sheet semakin terbatas.

Fleksibilitas dalam standar IFRS yang bersifat principles-based akan berdampak pada tipe dan jumlah skill professional yang seharusnya dimiliki oleh akuntan dan auditor. Pengadopsian IFRS mensyaratkan akuntan maupun auditor untuk memiliki pemahaman mengenai kerangka konseptual informasi keuangan agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatan keputusan. Pengadopsian IFRS mensyaratkan akuntan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kejadian maupun transaksi bisnis dan ekonomi perusahaan secara fundamental sebelum membuat judgment. Selain keahlian teknis, akuntan juga perlu memahami implikasi etis dan legal dalam implementasi standar (Carmona & Trombetta, 2008).
Pengadopsian IFRS juga menciptakan pasar yang luas bagi jasa audit. Berbagai estimasi yang dibuat oleh manajemen perlu dinilai kelayakannya oleh auditor sehingga auditor juga dituntut memiliki kemampuan menginterpretasi tujuan dari suatu standar. AAA Financial Accounting Standard Committee (2003) bahkan meyakini kemungkinan meningkatnya konflik antara auditor dan klien.
Konvergensi IFRS di Indonesia perlu didukung agar Indonesia memperoleh pengakuan maksimal dari komunitas Internasional khusunya di mata investor global. Dengan diadopsinya IFRS di Indonesia, maka proses rekonsiliasi bisnis dalam bisnis lintas negara akan semakin mudah.  Dapat dikatakan demikian karena diterapkannya suatu standar internasional akan meningkatkan kepercayaan internasional untuk berinvestasi di Indonesia.



Referrensi :
Utami, et. al., 2012, ”Investigasi dalam Konvergensi IFRS di Indonesia: Tingkat Kepatuhan      Pengungkapan Wajib dan Kaitannya dengan Mekanisme Corporate Governance”, Simposium Nasional Akuntansi 15, Banjarmasin.

Tampubolon, M.S., 2012, “Alasan Perlunya Konvergensi ke IFRS”, http://maiyasari.wordpress.com/2012/04/20/alasan-perlunya-konvergensi-ke-ifrs-21/, Diakses tanggal 8 Januari 2013, pk 08.54 WIB

Wahyu, A., 2012, “Standar Akuntansi Keuangan”, http://www.lintasberita.web.id/standar-akuntansi-keuangan/, Diakses tanggal 6 Januari 2013, pk 12.45 WIB


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Investasi Saham pada PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk berdasarkan Analisis Fundamental


Disusun Oleh:
  1. Elin Eliani                              22210333
  2. Harry Farhan                        23210157
  3. Rika Agustina                       25210942
  4. Mira Mediani Suryadi          24210411
  5. Yanih Supriyani                     28210593


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah
      Pasar modal di Indonesia terus berkembang dengan baik seiring dengan perkembangan perekonomian nasional. Hal ini terlihat dari kapitalisasi pasar yang terus mengalami peningkatan beberapa tahun belakangan ini. Indonesia sudah masuk tahap Investment Grade sehingga membuat investor baik lokal maupun asing tertarik untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia dalam memenuhi investasinya dalam bentuk penawaran saham, penerbitan obligasi, atau produk-produk investasi lainnya.
      Salah satu instrumen pasar modal yang paling sering diperdagangkan adalah saham. Terutama saham yang bersifat Go Public. Saham Go Public adalah saham yang diperjual-belikan pada khalayak umum (investor) pada suatu bursa saham. Bursa efek yang mengatur transaksi pembelian dan penjualan saham di Indonesia adalah Bursa Efek Indonesia (BEI).
      Saham adalah tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut (Darmadji dan Fakhruddin, 2001).
      Saham yang terdapat di perusahaan publik adalah saham yang memiliki risiko yang tinggi. Risiko tersebut dapat terjadi karena perubahan kondisi baik di perusahaan, perubahan yang terjadi di dalam negeri dan di luar negeri sangat berpengaruh seperti kurs saham. Perubahan tersebut ada yang berdampak positif dan berdampak negatif. Sehingga aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga saham akan mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan dan penurunan.
      Untuk itu, para investor sebaiknya melakukan sebuah analisis yang tepat untuk mengurangi kerugian akibat fluktuasi harga saham. Analisis yang dilakukan harus sesuai sasaran dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi perusahaan emiten. Dalam melakukan analisis, memilih dan memiliki saham pada perusahaan emiten, investor dan calon investor bisa menggunakan  dua pendekatan yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental menggunakan informasi historis dari keuangan perusahaan untuk meramalkan hasil  keuangan. Sedangkan analisis teknikal menganalisa fluktuasi harga saham dalam rentang  waktu tertentu.
Analisis fundamental merupakan metode penelitian yang mempelajari tentang peramalan laba, permintaan dan penawaran, kekuatan suatu industri atau perusahaan, kemampuan manajemen, dan masalah intrinsik lainnya yang mempengaruhi nilai harga saham dan potensi pertumbuhan (Mastering Fundamental Analysis, 2).          
Analisis fundamental bertujuan untuk memilih saham-saham yang baik untuk diinvestasi. Berarti, hasil analisis fundamental adalah kelompok saham yang baik dan layak untuk dibeli dan kelompok saham yang jelek dan tidak layak untuk dibeli. Yang dimaksud dengan saham baik adalah saham dari perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja baik, terutama secara keuangan. Perusahaan-perusahaan yang kinerja keuangannya baik adalah perusahaan yang kondisi keuangannya sehat.
     







BAB II
PEMBAHASAN


1.      Sejarah Singkat PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
            PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement” atau “Perseroan”) adalah perusahaan yang memproduksi semen, yang juga memiliki beberapa anak perusahaan yang memproduksi beton siap-pakai (Ready-Mix Concrete/RMC) serta mengelola tambang agregat dan trass. Berdiri sejak 16 Januari 1985, Perseroan merupakan penggabungan dari enam perusahaan semen yang saat itu memiliki delapan pabrik.
            Pabrik pertama Indocement resmi beroperasi sejak 4 Agustus 1975. Selama 37 tahun pabrik beroperasi, Indocement terus meningkatkan kapasitas produksinya dan merupakan salah satu produsen semen terbesar  di Indonesia. Indocement terus menambah jumlah pabrik hingga saat ini mencapai 12 pabrik, yang sebagian besar berada di Jawa. Sembilan pabrik berada di Kompleks Pabrik Citeureup, Bogor, Jawa Barat, dan merupakan salah satu kompleks pabrik semen terbesar di dunia. Dua pabrik berada di Kompleks Pabrik Palimanan, Cirebon, Jawa Barat dan satu pabrik di Kompleks Pabrik Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan.
            Indocement pertama kali mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode transaksi “INTP” pada 5 Desember 1989. Sejak 2001, mayoritas saham Perseroan dimiliki oleh HeidelbergCement Group yang berbasis di Jerman. HeidelbergCement adalah pemimpin pasar global dalam bidang agregat dan merupakan pemain terkemuka di industri semen, beton, dan kegiatan hilir lainnya, yang menjadikannya sebagai salah satu produsen terbesar di dunia di bidang bahan bangunan. HeidelbergCement mempekerjakan sekitar 53.400 karyawan di lebih dari  40 negara.
            Dengan merek dagang “Tiga Roda”, sepanjang 2012 Indocement telah menjual sekitar 18 juta ton semen, yang merupakan penjualan semen tertinggi di Indonesia (sebagai entitas tunggal). Adapun produk semen yang dihasilkan oleh Perseroan adalah Portland Composite Cement (PCC), Ordinary Portland Cement (OPC Tipe I, II, dan V), Oil Well Cement (OWC), Semen Putih, dan TR-30 Acian Putih. Indocement adalah satu-satunya produsen Semen Putih di Indonesia.
            Selain itu, penjualan RMC yang diproduksi oleh anak perusahaan Indocement, yakni PT Pionirbeton Industri, mengalami peningkatan sebesar 44,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menjadikan Indocement sebagai pemimpin pasar RMC di Indonesia. Dalam menjalankan usahanya, Indocement bertekad memerhatikan pembangunan berkelanjutan, melalui komitmen untuk mengurangi emisi karbon dioksida dalam proses pembuatan semen. Indocement adalah perusahaan pertama di Asia Tenggara yang menerima Emisi Reduksi yang Disertifikasi (Certified Emission Reduction/CER) untuk proyek bahan bakar alternatif dalam kerangka Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB).

2.      Kegiatan Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
            Indocement memiliki operational semen terintegrasi dengan total kapasitas terpasang 18,6 juta ton semen. Saat ini Indocement mengoperasikan 12 pabrik, sembilan berlokasi di Citeureup, Bogor, Jawa Barat; dua di Palimanan, Cirebon, Jawa Barat dan satu di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan.
            Produk utama perusahaan adalah Portland Composite Cement (PCC) dan Ordinary Portland Cement (OPC). Perusahaan juga memproduksi berbagai tipe semen lainnya seperti Portland Cement Type I and Type V, begitu juga dengan Oil Well Cement. Indocement adalah satu-satunya produsen Semen Putih di Indonesia.






3.      Analisa Data Perusahaan
            Langkah pertama dalam penulisan makalah ini adalah menganalisa rasio-rasio keuangan selama lima tahun. Dengan menggunakan data yang ada yaitu berupa laporan keuangan yang terdiri dari laporan neraca dan laporan laba-rugi. Dari data tersebut, dapat diketahui beberapa rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas, dan rasio pasar pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk selama lima tahun terakhir yaitu 2008 sampai dengan 2012 serta dapat diketahui pula kondisi keuangan tersebut.

1.        Rasio Likuiditas
Rasio ini menunjukkan sejauh mana kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya. Pengujian likuiditas difokuskan pada besaran dan hubungan antara hutang lancer, aktiva lancer, kas dan persediaan. Dan rasio likuiditas ini antara lain sebagai berikut :

a.      Current Ratio
Rasio Likuiditas dengan perhitungan rasio lancar (current ratio) ini membandingkan jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Current ratio bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar yang yang dimiliki perusahaan.

Current Ratio  =





b.      Quick Ratio
Rasio cepat (quick ratio) ini membandingkan aktiva lancar setelah di kurangi persediaan dengan kewajiban lancar.

Quick Ratio  =

c.       Cash Ratio
            Rasio ini membandingkan jumlah kas dan efek dengan kewajiban lancar. Mengukur kemampuan perusahaan utuk membayar hutang lancar dengan menggunakan kas dan efek.

Cash Ratio =

2.      Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas atau sering juga disebut rasio rentabilitas merupakan indikator untuk mengukur efektivitas manajemen perusahaan berdasarkan hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya selama periode tertentu.

a.      Gross Profit Margin Ratio
            Rasio ini membandingkan antara laba kotor yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama.

Gross Profit Margin    =
b.      Net Profit Margin
            Net profit margin merupakan rasio perbandingan yang digunakan untuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu di bandingkan dengan volume penjualan dalam suatu periode tertentu.

            Net Profit Margin =
c.       Return on Invesment
            Return on investment (ROI) disebut juga dengan return on asset (ROA). ROI digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. ROI membandingkan laba bersih dengan total aktiva.

            Return on Investment =
d.      Return on Equity
            Return on equity (ROE) menunjukkan tingkat pengembalian yang dihasilkan manajemen atas modal yang ditanam pemegang saham, sesudah dipotong kewajiban kepada kreditor.

            Return on Equity  QUOTE  

3.      Rasio Aktivitas
Rasio Aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya.


a.      Total Asset Turnover
            Total assets turnover merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dengan jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tertentu untuk mengukur intensitas perusahaan dalam menggunakan aktivanya. Rasio ini membandingkan penjualan bersih dengan total aktiva.         

            Total Assets Turnover  =        


b.      Account Receivable Turnover
Perputaran piutang usaha (account receivable turnover) mengukur kemampuan untuk menagih kas dari pelanggan kredit. Semakin tinggi rasionya, semakin cepat penagihan kas. Rasio ini membandingkan penjualan bersih dengan piutang usaha.
Account Receivable Turnover  =

c.       Working Capital Turnover
Rasio ini membandingkan penjualan bersih dengan aktiva lancar setelah dikurangi hutang lancar.
Working Capital Turnover  =  

4.      Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas ini menelaah struktur modal perusahaan, termasuk sumber dana jangka panjang dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban investasi dan utang jangka panjangnya. Rasio ini juga disebut dengan leverage ratios, karena merupakan rasio pengungkit, yaitu menggunakan uang pinjaman (debt) untuk memperoleh keuntungan.

a.      Debt to Capital Assets Ratio
Debt to Capital Ratio mengukur tingkat penggunaan hutang sebagai sumber pembiayaan aktiva perusahaan. Rasio ini membandingkan total hutang terhadap aktiva.
Debt to Capital Assets Ratio  =
b.       Debt to Equity Ratio
Debt to Equity Ratio membandingkan sumber pembiayaan yang berasal dari modal pemegang saham. Rasio ini membandingkan total hutang dengan modal pemilik.
Debt  to Equity Ratio   =
5.      Rasio Pasar
Rasio pasar mengevaluasi kinerja perusahaan melalui basis per saham. Rasio ini digunakan untuk menunjukkan bagian dari laba perusahaan, dividen dan modal yang dibagikan pada setiap saham.

a.      Earning Per Share
Laba per saham biasa (EPS) memberikan jumlah laba bersih yang dihasilkan atas setiap saham biasa perusahaan. EPS menghitung penghasilan bersih yang diperoleh untuk setiap saham biasa tidak termasuk saham preferen. EPS membandingkan laba setelah pajak dengan jumlah lembar saham yang beredar.

Earning Per Share   =


b.      Book Value per Share
Nilai buku per saham (book value per share) membandingkan total modal dengan jumlah saham beredar .
Book Value Per Share   =
                             



















Rangkuman Hasil Penelitian
Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas, Rasio Aktivitas, Rasio Solvabilitas dan Rasio Pasar
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
2008-2012

2008
2009
2010
2011
2012
Rata-rata
Keterangan
Rasio Likuiditas


Current Ratio         
178.57%
300.55%
555.38%
698.54%
602.76%
467.16%
Menurun
Quick Ratio
100.62%
228.88%
458.95%
608.62%
541.98%
387.81%
Menurun
Cash Ratio
40.65%
148.13%
347.62%
464.89%
433.04%
286.87%
Menurun
Rasio Profitabilitas
Gross Profit Margin
41.15%
48.30%
49.75%
46.19%
47.83%
46.64%
Meningkat
Net Profit Margin
17.85%
25.97%
28.95%
25.93%
27.55%
25.25%
Meningkat
Return on Investment
15.47%
2069%
21.01%
19.84%
20.93%
429.25%
Meningkat
Return on Equity
20.53%
25.72%
24.66%
22.89%
24.53%
23.67%
Meningkat
Rasio Aktivitas
Total Assets Turnover
0.87
0.8
0.73
0.77
0.76
0.79
Menurun
Account Receivable Turnover
10.61
7.86
8.22
7.17
7.04
8.18
Menurun
Working Capital Turnover
6.4
2.98
1.81
1.57
1.42
2.84
Menurun
Rasio Solvabilitas
Debt to Capital Assets Ratio
0.24
0.19
0.15
0.13
0.15
0.17
Meningkat
Debt to Equity Ratio
0.32
0.24
0.17
0.15
0.17
0.21
Meningkat
Rasio Pasar
Earning per Share
474.21
746.7
876.03
978.41
1294.05
873.88
Meningkat
Book Value per Share
2309.21
2901.58
3552.67
4274.37
5275.4
3662.65
Meningkat
                                                                                                                                           Sumber : data diolah

  1. Analisis Fundamental
  1. Pendekatan Nilai Buku
P          =
P          =
P          = Rp 5.275
Nilai intrinsik pada Pendekatan Nilai Buku sebesar Rp 5.275.Dan harga pasar saham sebesar Rp 22.450. Hal ini dihargai terlalu tinggi atau overvalued. Jika harga pasar saham lebih tinggi dari nilai intrinsiknya, maka saham tersebut sebaiknya dijual untuk menghindari kerugian. Karena tentu harganya kemudian akan turun menyesuaikan dengan nilainya.
Pada analisis sekuritas ini, pendekatan nilai buku digunakan oleh investor untuk mengetahui besarnya penyertaan pemegang saham perusahaan dan mengetahui berapa kali besarnya penilaian publik/investor terhadap harga buku perusahaan yang tercermin dalam harga pasar bursa.

  1. Pendekatan Nilai Sekarang
g          = (1-Payout Ratio) * ROE
g          = (1-0,2) * 0,2452
g          = 0,18576= 18,58%
Ke        = 
Ke        = 
Ke       = 0,0106 = 1,06%
Po        =
Po        =
Po        = Rp1.937,6
Pada pendekatan nilai sekarang dapat diketahui nilai intrinsik saham sebesar Rp 1.937,6 sedangkan harga pasar saham sebesar Rp 22.450. Hal ini bahwa saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dihargai terlalu tinggi atau overvalued. Jika harga pasar saham lebih tinggi dari nilai intrinsiknya, maka saham tersebut sebaiknya dijual untuk menghindari kerugian. Karena tentu harganya kemudian akan turun menyesuaikan dengan nilainya.
Pada analisis sekuritas dengan metode pendekatan nilai sekarang menggunakan proses kapitalisasi nilai-nilai masa depan yang didiskontokan menjadi nilai sekarang dengan asumsi bahwa pertumbuhan dividennya konstan. Perusahaan biasanya mempunyai kebijaksanaan dalam menentukkan praktek pembayaran dividen. Kebijakan ini ditetapkan dengan pertimbangan kebutuhan pembelanjaan perusahaan dan kebutuhan pemegang sahamnya. Oleh karena kebijakan ini dapat mempengaruhi tingkat dan kesinambungan pembayaran dividen maka para investor sangat berkepentingan. Kelemahan dari kebijakan ini tidak stabilnya dividen sehingga kekacauan dan sering kemerosotan harga pasar saham.

  1. Pendekatan Price Earning Ratio (PER)
PER     =
PER     =
PER     = 17,3 kali
P          = PER x Earning Per Share
P          = 17,3 x Rp1.293
P          = Rp 22.446,5
Nilai Intrinsik pada Pendekatan Price Earning Ratio sebesar Rp 22.446,5. Dan harga pasar saham sebesar Rp 22.450. Dengan harga pasar saham di hargai terlalu tinggi atauovervalued  terhadap nilai intrinsik, maka saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk layak untuk dijual.
Pada analisis sekuritas ini, Pendekatan price earning ratio (PER) digunakan oleh investor untuk memperlihatkan berapa kali besarnya penilaian publik/investor terhadap potensial keuntungan yang akan didapat perusahaan per saham yang tercermin dalam harga pasar bursa. Bagi investor PER yang rendah dapat memberikan kontribusi tersendiri, karena investor dapat membeli saham dengan harga yang relatif murah, kemungkinan untuk mendapatkan capital gain juga semakin besar. Dan sebaliknya, emiten menginginkan PER yang tinggi pada waktu go public untuk menunjukkan bahwa kinerja perusahaan cukup baik dengan harapan agar harga saham akan tinggi pula.

Perbandingan Nilai Intrinsik Saham dengan Nilai Pasar Saham
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
2012
Sumber : data diolah
No
Keterangan
Nilai
Intrinsik
Harga Pasar Saham
Hasil
Perbandingan
Keputusan
1
Pendekatan Nilai Buku
Rp 5.275
Rp 22.450
Overvalued
Jual
2
PendekatanNilai
Sekarang
Rp 1.937,6
Rp 22.450
Overvalued
Jual
3
Pendekatan PER
Rp 22.446,5
Rp 22.450
Overvalued
Jual


BAB III
KESIMPULAN


            Dari hasil perhitungan dan analisis fundamental atas rasio keuangan dan nilai intrinsik saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Berdasarkan hasil perhitungan rasio keuangan, dapat disimpulkan bahwa kondisi keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk periode 2008 sampai dengan 2012 memiliki keuangan yang cukup baik.
2.      Berdasarkan analisis fundamental yang telah dilakukan dengan menggunakan Pendekatan Nilai Buku, Pendekatan Nilai Sekarang, dan Pendekatan Price Earning Ratio (PER), maka dapat diputuskan bahwa saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih baik dijual untuk menghindari keugian.
3.      Dan berdasarkan analisis fundamental yang telah dilakukan terhadap investasi saham  PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk pada tahun 2012 dapat disimpulkan bahwa keputusan investasi bagi investor yang telah memiliki saham PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk agar menjual saham tersebut. Sedangkan bagi investor yang belum memiliki saham PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk sebaiknya membeli pada saat harga saham sedang turun.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS